Kamis, 12 Juli 2012

aku, ayah, dan titik terendah

Pernahkah kamu merasa sedang berada dalam titik terendah? Titik dimana kau merasa sebagai orang paling tidak berarti, tak dapat dipercaya, bahkan oleh dirimu sendiri.

Bisa dikatakan, begitu lah keadaanku sebulan yang lalu. Sebulan yang menyadarkan ku betapa aku telah jauh dari perintah Allah yang tertera dalam ayat perdana nya.


Entah sejak kapan aku merasa telah terlalu lama membiarkan buku bukuku bersatu dengan debu. Kondisi yang tak kalah menyedihkan dengan ketajaman analisisku yang semakin lama semakin tumpul -mungkin saja berkarat-.

Sedari dulu, ayah tetaplah guru yang terbaik untukku. Bersaranakan telpon pintar, dua jam kami berbincang, mengenai banyak hal, rasanya campur aduk. Ayah bilang, buku itu ibarat api yang siap menghangatkan pikiran agar mampu bekerja dengan baik. Apabila ada yang salah dengan kemampuan analisis ku, itu artinya aku sudah jauh dari api itu.

Kata kata ayah aku akui benar. Buku telah menjadi sesuatu yang asing bagiku , mungkin karena aku telah menemukan sahabat baru bermerk asus yang setiap hari tersimpan rapi dalam tas ransel ku. Mungkin juga aku telah terlalu sibuk memikirkan hal yang tidak penting lainnya, yang merampok ruang dalam otakku sehingga aku lupa bahwa ada kebutuhan yang telah aku acuhkan.

Liburan membuat semuanya membaik. Mesin pun dipanaskan kembali. Titik terendah perlahan menanjak naik. Wahai buku yang terpojok putus asa di ujung lemari sana, bersiaplah, bahagialah! :")