Senin, 06 Agustus 2012

Terlalu tiba tiba

Hari ini hari yang aneh.
Bertemu orang aneh.
Yang menatapku dengan aneh.
Tajam, menusuk mata, menginterogasi.
Biasanya, senyum ku sangat mudah kulemparkan kepada siapa saja
Bahkan kepada ibu yang tak sama sekali ku tahu di sebelah tempat wudhu ku.
Tapi dia , gadis berwajah cina yang memegang tiang kereta,
Ia berbeda.
Aku rasa aku mengenalnya,
Mungkin ia pun rasa.
Tapi kami sama sama kelu, mungkin malu.
Dan pada akhirnya pintu ke stasiun pemberhentianku terbuka.
Seketika aku teringat
Kau gadis pemalu anak bungsu tetangga ku yang dulu,
Tetangga 6 tahun yang lalu.

Kamis, 12 Juli 2012

aku, ayah, dan titik terendah

Pernahkah kamu merasa sedang berada dalam titik terendah? Titik dimana kau merasa sebagai orang paling tidak berarti, tak dapat dipercaya, bahkan oleh dirimu sendiri.

Bisa dikatakan, begitu lah keadaanku sebulan yang lalu. Sebulan yang menyadarkan ku betapa aku telah jauh dari perintah Allah yang tertera dalam ayat perdana nya.


Entah sejak kapan aku merasa telah terlalu lama membiarkan buku bukuku bersatu dengan debu. Kondisi yang tak kalah menyedihkan dengan ketajaman analisisku yang semakin lama semakin tumpul -mungkin saja berkarat-.

Sedari dulu, ayah tetaplah guru yang terbaik untukku. Bersaranakan telpon pintar, dua jam kami berbincang, mengenai banyak hal, rasanya campur aduk. Ayah bilang, buku itu ibarat api yang siap menghangatkan pikiran agar mampu bekerja dengan baik. Apabila ada yang salah dengan kemampuan analisis ku, itu artinya aku sudah jauh dari api itu.

Kata kata ayah aku akui benar. Buku telah menjadi sesuatu yang asing bagiku , mungkin karena aku telah menemukan sahabat baru bermerk asus yang setiap hari tersimpan rapi dalam tas ransel ku. Mungkin juga aku telah terlalu sibuk memikirkan hal yang tidak penting lainnya, yang merampok ruang dalam otakku sehingga aku lupa bahwa ada kebutuhan yang telah aku acuhkan.

Liburan membuat semuanya membaik. Mesin pun dipanaskan kembali. Titik terendah perlahan menanjak naik. Wahai buku yang terpojok putus asa di ujung lemari sana, bersiaplah, bahagialah! :")


Selasa, 22 Mei 2012

panggung ke 2, gaji pertama!

mihiiy tulisan yang gue bikin dengan senyum sepanjang jari kelingking.

Kemaren , 22 mei 2012 , adalah hari pertama kali nya gue menggunakan hobi gue sebagai alat mendapatkan uang. Job ini ditawarin sama kak rachel, anak pargit. Gue yang emang sedang butuh uang untuk memberi makan teman ( baca : traktir ) langsung daftarin diri dan akhirnya gue masuk vokal grup namanya FAIRISH VOICE!
Nama acaranya " Pagelaran Musik Karya Ismail Marzuki ". Acara ini emang rutin tiap tahun ada, yang ngadain Sudin dalam rangka memperingati karya karya Ismail Marzuki. Di acara itu , fairish voice nyanyi 2 lagu, Aryati sama Kebaya Bandung dengan di iringi orkestra dari SMM Percik. Selain Fairish Voice, penyanyi yang tampil ada Resa Herlambang, Astrid, ama soloist super bikin merinding namanya Putu Sastrani Titaranti.

Kalo Resa ama Astrid udah pada tau lah ya. nah kalo kak Sastrani, nih kalo mau nonton doi nyanyi.

http://www.youtube.com/watch?v=7kWS4I1ABTo

( dan BTW , ternyata gue pernah nonton dia pas di JGTC 2011, dan sekarang sepanggung ama dia, aaaa hidup itu indah memang )

sayangnya, ga ada yang motoin kita pas di atas panggung gara gara yang kita kenal dan nonton acara itu cuma pacarnya yola doang sama mama nya kak mayang. dan pacarnya yola full nge video in bukan motoin haha.

setelah acara selesai muncul harapan gue , moga nanti ada job job beginian lagi, dapet temen baru lagi deeh! horee!


tulisan sebulan lalu

bunyi nya begini :

'' i've cross the border, what next? regret "

gue dalam tahap what next sekarang. regret.

untung Allah kasih "lembaga" yang namanya taubat.

Sabtu, 12 Mei 2012

Lagi. Wanita dan Malam


Sekedar ingin bercerita. Hari ini aku pulang malam . Kebetulan kereta terakhir baru saja berangkat 5 detik sebelum aku sampai ke loket stasiun.  Aku pun termangu , kemudian memperhatikan sekeliling dan lalu sadar bahwa hari telah malam. Ummi ku menelpon dari seberang sana, dan akhirnya memutuskan untuk menjemputku dikampus tercinta. Nada bicaranya meneduhkan, tidak seperti biasanya jika aku pulang lewat dari jam 8. Aku berfikir, mungkin , ummi sudah mulai mengerti bahwa aku memang telah akrab berteman dengan malam.

Aku berjalan , menunggu, dengan kegelisahan yang entah dari mana datangnya. Sampai akhirnya aku bertemu ummi , ya, dapat kubaca, ekspresinya mengandung kekecewaan teramat sangat bahkan lebih kecewa daripada ketika ku beritahu IP perdana ku jauh dari IP kakak2ku.

Setengah jam perjalanan depok-pejaten kali ini diisi dengan berbagai wejangan yang membuat ku ingin meledak menyesali apa yang telah kuperbuat. Malam tidak sepantasnya dijadikan teman oleh wanita. Dibalik kegelapannya, hantu bernama pria menyeramkan sedang bergentayangan, mengintai makhluk polos yang tak paham kondisi sekitar. Ummi bilang, ketika masuk gerbang kampus, Beliau hanya bisa istigfar, membayangkan buahhatinya berjalan menuju kereta dengan wajah ceria seperti biasanya. Membayangkan betapa banyak cerita yang dapat terjadi setiap ia pulang malam.

Akhirnya , hari ini aku membuat keputusan, tak akan lagi aku kecewakan beliau, tak akan lagi. Persetan dengan emansipasi, jika itu berkontrakdiksi dengan suara hati.

Bismillah untuk hari esok dan Istighfar untuk hari kemarin
Bismillah , semoga bisa istiqomah.