Senin, 30 Januari 2012
Happy bdaaay ummi!
Senin, 14 November 2011
Inspirasi ku
“Mereka begitu berbeda kecuali dalam cinta”
Ini cerita tentang sesosok wanita hebat yang ada dibelakang ayahku, yang dengan setia menemani setiap langkahnya, mengistiqomahkan hatinya, menjalankan amanah darinya dan menjadi pelindung anak anaknya. Beliaulah Ibu ku. Selama ini, beliau memang jarang menghiasi tulisan tulisan dalam blog ku, atau dalam essai essai ku, namun itu bukan karena ibu ku tidak memberi pengaruh bagi hidup ku, justru beliau lah pembentuk segala karakter, bakat, dan kepribadian dalam diriku. Peranan beliau terlalu banyak, sehingga menyulitkanku ketika ingin menceritakannya dalam rangkaian kata kata.
Umi, begitu aku biasa memanggilnya, adalah ibu yang selalu mengajarkanku tentang nilai nilai kehidupan, seperti bagaimana cara mengahargai orang, bagaimana cara menjadi orang yang menyenangkan, cara meredam emosi, dan cara berhubungan dengan Tuhan. Umiku orang yang paliiing mengerti aku. Beliau tau bakatku dimana, makanan kesukaanku apa, sifat buruk ku apa, dan lain lain. Beliau lah yang memasukkan aku ke klub tennis, klub renang, klub basket, les vokal, dan berbagai les les softskill lainnya. Namun ada satu hal yang sangat tabu untuk jadi bahan perbincangan kami, masalah pria yang aku sukai. Untuk masalah ini , umi seolah menutup telinga.
Aku pernah menceritakan tentang seorang pria yang aku suka pada saat wisuda SMA. Umi ku langsung bilang “ dia jelek , mia ga boleh genit genit”. Sejak saat itu aku tak mau ambil risiko dengan mengambil topik ini sebagai bahan pembicaraan. Topik ini lebih cocok aku perbincangkan dengan Abah.
Kisah cinta mereka menginspirasi diriku hingga kini. Umi bertemu Abah pada masa kuliah. Mereka tergabung dalam sebuah perkumpulan Bani Alawiyyin di Universitas Lampung. Umi pada saat itu adalah seorang mahasiswi Fakultas ekonomi sedangkan Abah mahasiswa Fakultas hukum. Saat itu Abah menjabat sebagai ketua sedangkan umi sebagai bendahara. Umi sangat membenci abah karena abah termasuk orang yang aktif dikampus, sedangkan umi adalah gadis biasa yang lebih sering memilih untuk berlajar atau bersenang senang dengan teman temannya dan cenderung apatis dalam menyikapi perubahan perubahan sosial yang pada masa itu kerap kali terjadi. Umi menganggap Abah adalah pria yang terlalu vokal, terlalu idealis ( sampai saat ini aku tak mengerti kenapa malah hal itu yang dibenci umi ) . Padahal menurutku, justru Abahku yang seperti itu adalah idaman para wanita. Jujur aku pun mengharapkan suami yang “minimal” seperti Abahku.
Perbedaan diantara mereka tidak terbatas pada karakter dan sifat dalam diri mereka, tetapi juga pada lapisan sosial mereka. Abah ku adalah mahasiswa yang sungguh mengenaskan kondisi keuangannya. Beliau tinggal di ujung peta provinsi lampung, pada sebuah pantai yang sampai sekarang pun tidak mengalami kemajuan yang signifikan. Ayah dari Abah ku adalah seorang PNS yang bertugas mengurusi urusan administrasi kampung tersebut. Oleh karena jabatan kakekku lah ayah ku jadi pintar. Mengapa ? Karena rumah Abah menjadi perpustakaan bagi buku buku untuk daerah tersebut. Abahku telah mengenal sastra sejak kecil, dan sejak saat itu pula beliau mencintai buku.
Berkebalikan dengan umiku yang keluarganya dianggap sebagai keluarga terpandang di Lampung. Keluarga Umiku terpandang karena faktor ekonomi , bukan karena keintelektualan seperti keluaga ayahku. Rumah umiku berada tepat diseberang pasar yang merupakan pusat kota pada masa itu. Umiku merupakan anak dari pengusaha ternama dikota tersebut. Kata Adik dari Abahku, setiap orang kenal siapa kakek ku. Oleh karena itu pernikahan –antar kelas– mereka sempat menjadi perbincangan yang hangat bagi beberapa warga disana.
Abah ku mencintai umi karena kesederhanaan dan kerendahhatiannya. Sedangkan umi mencintai Abah karena Abah memberikan cintanya kepada Umi. Hubungan penjajakan mereka tidak berlangsung lama seperti orang orang pada saat ini sering lakukan. Mereka bertaaruf selama tiga bulan kemudian menikah.
Tapi diantara berbagai perbedaan tersebut banyak juga kesamaannya, seperti keduanya tidak materialistis, menyukai tantangan alam, olahraga, seni dan senang “berbeda” dengan orang lain. Hal ini sepenuhnya menurun kedalam diriku. Yang aku harapkan menurun pula kedalam diriku adalah kisah percintaan mereka. Kisah cinta mereka selalu jadi motivasi terkuatku untuk tidak pernah mencicipi pacaran atau hts an yang kata orang adalah masa paling indah saat remaja. Meskipun aku sangat menyadari, orang sepertiku rentan sekali terjerumus ke hal yang mendekati zina tersebut. Ketika memasuki dunia pernikahan kelak , aku pun berharap dapat menjadi ibu dan isteri seperti ibuku, yang mengayomni dan melayani keluarga dengan sangat professional.
Sabtu, 20 Agustus 2011
Syair Perempuan ( written by my beloved sister, Luluq Baraqbah)
yaa kira kira usia 8, 9 tahun..
yah belum lulus sekolah dasar, Abah, panggilanku untuk ayahnda tercinta..
memperdengarkan padaku sebuah lagu yang lirik sangaat menyentuh..
ada getaran yang melambungkan harkat diri ini yang terlahir sebagai seorang permpuan..
dari sebuah kaset hitam kecil,
abah memutarkan lagu ini ..a
ku, kakak, daadik2,bahkan anak tetangga bernama Wodang ikut mendengarkan lagu ini..
aku ingaat sekali..
waktu itu kami semua berada diruang makan
aku dan adikk2ku duduk diatas kursi coklat tua, dan abah duduk di kursi meja makan sambil memeluk ummi.
lagu di perdengarkan
kami ambil sikap konsentrasi
pertama intro dulu
lambat laun..
suara rita effendy sang pelantun mulai menggetarkan ruang makan rumah sederhana kami kala itu..
begini liriknya
Lihatlah ke dalam mata perempuan,
pancaran damai..penyejuk jiwa..
berbaringlah di pelukan pelukan perempuan..
hanyut semua lara duniaa...
hati perempuan menyimpan kasih sayang..
tak sebatas waktu tak kenal usia..
kesabaran perempuan seluas samudera.
ada kelembutan dalam ketegaran perempuan..
ada kelembutan dalam ketegaran..
jiwa perempuan menara kesetiaan..
teman dalam suka,
kawan dalam duka..
hargailah pperempuan sebagaimana kau menghargai dirimu..
cintailah perempuan sebagaimana kau mencintai kehidupan..
begitulah penggalan liriknya..
syair yang sangat membekas dihati, tak hanya membahana di kamar mandi ketika anak anaknya ma
ndi,,
Abahku sangat pandai memilihkan lagu lagu mana yang harus kami dengar..
Abahku sangat jeli mencari buku buku mana yang patut kami baca, mana yang hanya menghabiskan waktu percuma.
Abahku akan mengahabiskan waktu berjam jam di toko kaset video untuk menanyakan konten film yang akan dibelinya untuk kami, membaca review di tiap kemasannya.
Jika masih sanksi dengan konten filmnya, abahku akan menontonnya sebelum kami menontonnya. memastikan apakah ada adegan kekerasan atau percintaan murahan di dalamnya atau nilai nilai yang tak mau abah tanamakan pada kami.
Jika tak sesuai dengan kriteria tontonan yang membangun versi abah, Abah akan bilang " Yang ini jangan di tonton ya nak.."
Ya..abahku akan lebih senang menemani kami nonton wayang dan layar tancep dibanding menghabiskan waktu di mall.
Abahku tidak pernah melarang sembarangan. Abahku selalu memberi pilihan. sebuah pilihan yang argumentatif, namun sedikit memaksa. ya tak apa, disitulah letak otoritas seorang Abah.
Bagi kami di Rumah, Abah adalah Lembaga Sensor dengan kedaulatan tertinggi. dan Ummi adalah penengah yang arif lagi bijaksana.
Sekarang, meski abah jauh bertugas jauh disana, tiap ajaran dari abah, begitu menjejak di hati kami.. sekarng, lambat laun, kami mulai bisa menjadi lembaga sensor bagi diri kami sendiri..meski abah adalah tetap penasehat terhandal tak ada lawan.
Kata abah, karena kita adalah perempuan,bersiaplah menjadi pemilah yang baik, persiapkan denga seksama masa depan. karena hidup itu tidak mudah. dan mejadi perempuan adalah sebuah anugerah,,
Seiring umur bertambah. aku berpikir...Ah betapa beruntungnya Ummi..mendapat suami seperti aAbah.
Betapa beruntungnya Abah mendapat istri seperti Ummi..
Ya Allah, di bulan Ramadhan ini, limpahkanlah rahmat dan kasihmu buat Abah kami tercinta yang sedang bertugas di tempat yang jauh disana
Aku akui, ini adalah pernyataan yang sangat subjektif.
terlalu memihak.
Kau, teman temanku, pasti juga akan menuliskan hal yang baik baik tentang orangtuamu.
ya..mengapa harus malu...tulislah..lalu bacakan tulisanmu di depan mereka..
puji pujilah orangtuamu ...
jadikan tulisanmu sebagai gula gula manis pelengkap berbuka puasa :)

Selasa, 19 Oktober 2010
Bersyukurlah

Hari ini berita mutasi Abah di umumkan. Bagi seorang hakim dan keluarganya, hari ini adalah hari yang sangat menentukan, bisa disambut dengan sujud syukur, atau malah sedu sedan. Hari ini, terasa sekali untukku, manusia hanyalah pemain sandiwara yang harus patuh memainkan skenario Tuhannya. Sabtu, 08 Mei 2010
Jangan tanya saya orang mana
Jika ada orang lampung berbicara dengan saya, saya akan bilang, hey rumah ku di daerah sini, rumah mu di mana?
Kemudian jika ada orang palembang dan bangka maka saya dengan faseh nya akan berbicara dengan bahasa mereka, bercerita, tertawa dan bla bla bla.
Ayah saya lahir di lahat. Ibu saya lahir di lampung. Tapi kedua dua nya adalah seorang Alawiyyn yang otomatis darah arab nya masih mengalir dan silsilahnya tetap rapih terpajang di ruang tamu rumah saya.
Sepertinya, kesempatan saya untuk mencicip (indahnya) primordialisme sangat sedikit. Seperti yang guru sosiologi saya bilang, kelak, akan banyak sekali generasi generasi bawah kita yang akan kebingungan sebenarnya dia suku apa. Bisa jadi suatu saat, kemajemukan Indonesia hilang akibat dari maraknya amalgamasi. Tapi toh bagus kan, kita jadi terhindar dari disintegrasi.
Jumat, 26 Maret 2010
Jangan tanya saya orang mana
Jika ada orang lampung berbicara dengan saya, saya akan bilang, hey rumah ku di daerah sini, rumah mu di mana?
Kemudian jika ada orang palembang dan bangka maka saya dengan faseh nya akan berbicara dengan bahasa mereka, bercerita, tertawa dan bla bla bla.
Ayah saya lahir di lahat. Ibu saya lahir di lampung. Tapi kedua dua nya adalah seorang Alawiyyn yang otomatis darah arab nya masih mengalir dan silsilahnya tetap rapih terpajang di ruang tamu rumah saya.
Sepertinya, kesempatan saya untuk mencicip (indahnya) primordialisme sangat sedikit. Seperti yang guru sosiologi saya bilang, kelak, akan banyak sekali generasi generasi bawah kita yang akan kebingungan sebenarnya dia suku apa. Bisa jadi suatu saat, kemajemukan Indonesia hilang akibat dari maraknya amalgamasi. Tapi toh bagus kan, kita jadi terhindar dari disintegrasi.
Jumat, 16 Oktober 2009
Air Wangi
-----------------------------------------------------------------------------------
nyikat nyikat
nyanyi nyanyi
bilas iye bilas iye
(lagunya anak thalas )
---
pas lagi asik ngebilas , kan susah bedaain mana ember mana jamban , eh malah ke ciduk aer jaamban
*ngakak sendiri di wece
hauaahhaaahaha, gw bersyukur, coba klo lagi keramas terus mata gw kena samponya, bisa bisa gw kena air wangi hahaha
Rabu, 14 Oktober 2009
Sirik
Selasa, 29 September 2009
KAK LULUQ dan DEK MIA'S DAY
kira2 ba'da dzuhur hp berbunyi tanda si adek nelpon
" Kak, ada tukang PLN di depan rumah, mau masuk. bukain pintu ngga "
kira2 1 jam kemudian si adek bungsu nelpon lagi. " Kak , mati lampu. tadi uda nelpon ke 123 PLN, katanya emang lagi ada gangguan voltase di daerah Pejaten Barat.kak luluq udah harus nyampe rumah sebelom magrib yah, dek mia takut sendirian d rumah "
kak luluq " yah, gimana dong ? ini aja rapat nya belom di mulai "
si adek rada ngambek, nutup telponnnya
akirnya si adek menunggu harap harap cemas di rumah
Kak luluq akhirnya bisa pulang jam setengah 5 sore dari kampus.dgn harapan bisa sampe rumah sebelom magrib.
Kak uni menawarkan supaya jangan naek busway
" busway mah lama, kita naek 143, turun di fatmawati, lanjut S11 , sampe deh d rumah luluq "
akhirnya kak luluq mencoba coba rute baru itu..
ternyata tetep ga keburu, jam 6 lewat, kak luluq masih belom sampe d rumah.
HP berbunyi lagi. dari si adek bungsu.
" Kak, udah dimana ? "
" masi di fatmawati "
" Yaaah, kak lluluq cepetan ke sini, udah magrib, takut.. "
ya udah, ahirnya kak luluq turun dari 143, lanjut taksi
biar cepet sampe rumah..
dan ternyata, ga peduli jakarta abis lebaran apa kagak, tu Jl. kemang raya tetep aja macet.
dan terpaksa..solat magrib d taksi
tetep, dgn harapan cepet sampe rumah.
akirnya ..jam 7 kurang 10, taksi berjalan pelan di tikungan, yg kira2 100 M dr rumah.
eh hp berbunyi lagi. si adek bungsu lagi.
" Kak , udah idup lampu "
------
di rumah...
" dek mia belom makan kan ? "
" belom kak "
" oh yaudah, tunggu ya, kak luluq angetin dulu sayurnya "
kak luluq dengan pede nya k dapur, ngidupin gas.
CTAK CTAK
api nya keluar meripil keciil
pelan pelan apinya mati.
tapi kak luluq coba lag CiTAK CTAK
yak berulang 2
GAS ABIS
--------
di putuskan bersama kalo malem ini kita ,makan nasi goreng di warung ibu ibu sebelah.
" Bu, nasi goreng 2, ga pake MSG, nasi nya dikit aja "
" tapi kecap nya abis mba, ngga papa ?"
ngedenger kalimat ibu nasi goreng, kak luluq dan dek mia pandangan pandangan , mikir bentar, dan
dengan lantang kak luluq menjawab " ngga papa "
sreng osreng osreng jadilah nasi gorang tanpa MSG tanpa kecap pula :(
kita pulang ke rumah dgn 2 bungkus nasi goreng dan bonus, 2 bungkus aer anget haha..
seduh teh anget, tuang di gelas .
masing masing nasi goreng diambil, ditaro sebelahan ama sehelas teh anget,
duduk rapi d meja makan,bungkus nasi goreng di buka...
bah elaah, tu ibu nasgor ngasi nasinyabanyak bener !!
terpaksa kita berdua, kak luluq dan dek mia susah payah menghabiskan nasi goreng tak ber MSG ( udah di pakein kecap, untung ngecek kulkas, kecap kita masi ada hahaa )
dan baca doaa
allahumma bariklana fimma razaktana wakinaa azaabannar
hap, dgn segala perjuangan, kita abisin tu nasi yg porsi nya jumbo.
di buang dosa,
mau di kasiin ke kucing, kaga punya kucing
ya udah
alhamdulillah tu nasi abis :D
hari yang menyenangkan yaa h :)
hahah
haha
haha
ha
nanacuu
