Kamis, 05 Januari 2012
Hujan itu romantis
Senin, 14 November 2011
Inspirasi ku
“Mereka begitu berbeda kecuali dalam cinta”
Ini cerita tentang sesosok wanita hebat yang ada dibelakang ayahku, yang dengan setia menemani setiap langkahnya, mengistiqomahkan hatinya, menjalankan amanah darinya dan menjadi pelindung anak anaknya. Beliaulah Ibu ku. Selama ini, beliau memang jarang menghiasi tulisan tulisan dalam blog ku, atau dalam essai essai ku, namun itu bukan karena ibu ku tidak memberi pengaruh bagi hidup ku, justru beliau lah pembentuk segala karakter, bakat, dan kepribadian dalam diriku. Peranan beliau terlalu banyak, sehingga menyulitkanku ketika ingin menceritakannya dalam rangkaian kata kata.
Umi, begitu aku biasa memanggilnya, adalah ibu yang selalu mengajarkanku tentang nilai nilai kehidupan, seperti bagaimana cara mengahargai orang, bagaimana cara menjadi orang yang menyenangkan, cara meredam emosi, dan cara berhubungan dengan Tuhan. Umiku orang yang paliiing mengerti aku. Beliau tau bakatku dimana, makanan kesukaanku apa, sifat buruk ku apa, dan lain lain. Beliau lah yang memasukkan aku ke klub tennis, klub renang, klub basket, les vokal, dan berbagai les les softskill lainnya. Namun ada satu hal yang sangat tabu untuk jadi bahan perbincangan kami, masalah pria yang aku sukai. Untuk masalah ini , umi seolah menutup telinga.
Aku pernah menceritakan tentang seorang pria yang aku suka pada saat wisuda SMA. Umi ku langsung bilang “ dia jelek , mia ga boleh genit genit”. Sejak saat itu aku tak mau ambil risiko dengan mengambil topik ini sebagai bahan pembicaraan. Topik ini lebih cocok aku perbincangkan dengan Abah.
Kisah cinta mereka menginspirasi diriku hingga kini. Umi bertemu Abah pada masa kuliah. Mereka tergabung dalam sebuah perkumpulan Bani Alawiyyin di Universitas Lampung. Umi pada saat itu adalah seorang mahasiswi Fakultas ekonomi sedangkan Abah mahasiswa Fakultas hukum. Saat itu Abah menjabat sebagai ketua sedangkan umi sebagai bendahara. Umi sangat membenci abah karena abah termasuk orang yang aktif dikampus, sedangkan umi adalah gadis biasa yang lebih sering memilih untuk berlajar atau bersenang senang dengan teman temannya dan cenderung apatis dalam menyikapi perubahan perubahan sosial yang pada masa itu kerap kali terjadi. Umi menganggap Abah adalah pria yang terlalu vokal, terlalu idealis ( sampai saat ini aku tak mengerti kenapa malah hal itu yang dibenci umi ) . Padahal menurutku, justru Abahku yang seperti itu adalah idaman para wanita. Jujur aku pun mengharapkan suami yang “minimal” seperti Abahku.
Perbedaan diantara mereka tidak terbatas pada karakter dan sifat dalam diri mereka, tetapi juga pada lapisan sosial mereka. Abah ku adalah mahasiswa yang sungguh mengenaskan kondisi keuangannya. Beliau tinggal di ujung peta provinsi lampung, pada sebuah pantai yang sampai sekarang pun tidak mengalami kemajuan yang signifikan. Ayah dari Abah ku adalah seorang PNS yang bertugas mengurusi urusan administrasi kampung tersebut. Oleh karena jabatan kakekku lah ayah ku jadi pintar. Mengapa ? Karena rumah Abah menjadi perpustakaan bagi buku buku untuk daerah tersebut. Abahku telah mengenal sastra sejak kecil, dan sejak saat itu pula beliau mencintai buku.
Berkebalikan dengan umiku yang keluarganya dianggap sebagai keluarga terpandang di Lampung. Keluarga Umiku terpandang karena faktor ekonomi , bukan karena keintelektualan seperti keluaga ayahku. Rumah umiku berada tepat diseberang pasar yang merupakan pusat kota pada masa itu. Umiku merupakan anak dari pengusaha ternama dikota tersebut. Kata Adik dari Abahku, setiap orang kenal siapa kakek ku. Oleh karena itu pernikahan –antar kelas– mereka sempat menjadi perbincangan yang hangat bagi beberapa warga disana.
Abah ku mencintai umi karena kesederhanaan dan kerendahhatiannya. Sedangkan umi mencintai Abah karena Abah memberikan cintanya kepada Umi. Hubungan penjajakan mereka tidak berlangsung lama seperti orang orang pada saat ini sering lakukan. Mereka bertaaruf selama tiga bulan kemudian menikah.
Tapi diantara berbagai perbedaan tersebut banyak juga kesamaannya, seperti keduanya tidak materialistis, menyukai tantangan alam, olahraga, seni dan senang “berbeda” dengan orang lain. Hal ini sepenuhnya menurun kedalam diriku. Yang aku harapkan menurun pula kedalam diriku adalah kisah percintaan mereka. Kisah cinta mereka selalu jadi motivasi terkuatku untuk tidak pernah mencicipi pacaran atau hts an yang kata orang adalah masa paling indah saat remaja. Meskipun aku sangat menyadari, orang sepertiku rentan sekali terjerumus ke hal yang mendekati zina tersebut. Ketika memasuki dunia pernikahan kelak , aku pun berharap dapat menjadi ibu dan isteri seperti ibuku, yang mengayomni dan melayani keluarga dengan sangat professional.
Selasa, 11 Januari 2011
Baran, untold love story
| Baran | |
|---|---|
| Directed by | Majid Majidi |
| Produced by | Majid Majidi Fouad Nahas |
| Written by | Majid Majidi |
| Starring | Hossein Abedini Zahra Bahrami Mohammad Amir Naji Abbas Rahimi Gholam Ali Bakhshi |
| Music by | Ahmad Pejman |
| Distributed by | Miramax Films |
| Release date(s) | January 31, 2001 |
| Running time | 94 minutes |



Rabu, 20 Oktober 2010
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu…
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada”
Minggu, 21 Maret 2010
ruginya pacaran
1. Udah tau ending nya nyiksa, kenapa mesti di ulang ulang lagi? gue suka agak bingung sama temen gue, abis putus dia nangis nangis curhat sama gue, nah pas dia lagi broken heart gitu , ada cowok yang ngedeketin dia and nenanging dia, trus dia jadian , trua putus lagi, nangis nangis lagi, oooiii soob! gue g tega liat lo ngangis muluuu, ah elaaah
2. kasian suami atau istri lo nanti, pasti dia bakal cemburu kalo sayang sayangan nya elo ga cuma ke dia ternyata, dan nama si mantan masih terukir rapi di hati lo
3. mentalnya orang yang suka pacaran adalah "ga cocok ganti". takutnya, kalo lo udah nikah, mental kayak gini masih ke bawa bawa, dan jadinya bisa bisa kawin cerai
4. kalo pas pacaran udah pegangan tangan, udah suap suapan, nanti pas nikah itu dah ga spesial.
5. Nanti lo jadi suka ngebanding bandingin si mantan sama suami lo. ah papa, si toni kalo aku ingusan dia beliin tisu, si andre ga bakalan biarin aku panas panasan, nah yang beginian bisa menyulut konflik tentuu nyaa
Anggap aja masa remaja adalah masa kita puasa (minjem istilahnya dianty widyowati), yang pas denger beduk magrip uhh rasanya senang sekali, ada kepuasan sendiri, beda dengan orang yang puasa nya buka jam 8, jam 10 , jam 1 , jam 3 , trus pas jam 6 nya udah g laper sama aus lagi.
Istilah membeli kucing dalam karung ? Hmmm gue agak g setuju niih, soalnya inget pepatah jawa "Withing Tresno Jalaran Soko Kulino" cinta itu timbul karena terbiasa.
Kalo dah terlanjur pacaraaan, yaudah berentiin aja, jangan di tambahin lagiii list mantan mantan lo, krena makin banyak lo jadian itungan nya sama kayak makin banyak lo buka puasanya, makin ga kerasa lagi dah asik nya beduk. Maaf kalo ada kata yang salah
Yaaak semoga bermanfaat yaaaa :)
