Rabu, 29 Juli 2026

Takut dan Berani

Belakangan ini gw memperhatikan satu pola yang menurut gw cukup universal, bukan cuma terjadi di lingkungan kerja gw, tapi mungkin di banyak institusi lain juga: orang baik yang jabatannya tinggi, yang kalau dilihat dari kacamata kaum kroco kayak gw seharusnya punya banyak power, ternyata tetap saja jadi orang yang penakut. No matter how strong the power, they were still being powerless.

Dari situ gw mulai mikir: apakah ini efek dari orang baik yang dibesarkan dan dididik oleh sistem birokrasi yang keliru, bahkan cenderung kejam? Apakah mereka akhirnya tumbuh jadi pribadi yang serba hati-hati dan terlalu considerate, sekadar supaya tidak tersingkir dari sistem itu sendiri?

Gw sendiri sudah cukup yakin mau jadi orang seperti apa di masa depan. Tapi keyakinan itu baru benar-benar diuji minggu lalu.

Waktu itu ada pengajian di rumah. Ustadnya membahas soal sabar, dan gw iseng bertanya: dalam konteks negara yang penuh kezaliman, apakah sabar masih relevan?

Jawaban beliau—yang kemudian dilengkapi oleh Kak Nasya—benar-benar menohok gw.

Sabar itu letaknya di mental state, ada di dalam diri. Soal mau speak up atau tidak, itu bukan pilihan. Itu kewajiban pertama yang harus ditunaikan lebih dulu. Kita tetap wajib jadi orang yang menyuarakan dan berdiri untuk kebenaran.

Masalahnya, orang-orang baik yang berani speak up itu justru sering dikucilkan. Banyak dari mereka akhirnya trauma sendiri, lalu menarik diri, berhenti peduli pada sistem, dan akhirnya kehilangan kesempatan untuk memberi warna, padahal niat awalnya baik.

Pertanyaannya jadi: kalau begitu, gw harus mendidik diri gw sendiri seperti apa?

Tulisan ini sebenarnya terpantik dari kejadian kecil: tulisan gw baru saja ditolak oleh media internal. Padahal di media itu banyak tulisan lain yang jujur saja isinya asal-asalan, bahkan ada yang cuma 400 kata dan isinya kayak status Facebook, tanpa argumen yang jelas.

Tulisan gw sendiri mengkritik salah satu produk regulasi. Dan tentu saja ditolak, karena tujuan media itu memang untuk "mempercantik citra", bukan wadah diskusi akademik. Alasan penolakannya pun cukup konyol—sampai terasa lucu kalau dipikir ulang. Tapi justru dari situ gw jadi bisa membayangkan seperti apa hidup gw ke depan di institusi ini.

Dan ini bukan penolakan pertama. Pernah juga gw menyuarakan keberatan ke sebuah pihak yang sempat membuka donasi bencana alam, supaya dananya benar-benar hanya dipakai untuk korban bencana, bukan untuk hal lain. Concern itu pun ditolak, dengan alasan "diskresi".

Begitu banyak hal yang coba gw sampaikan, dan begitu banyak pula yang ditolak. Tapi justru rangkaian penolakan ini yang membuat gw berpikir lebih jauh.

Gw ternyata takut. Takut berubah jadi orang yang penakut, karena dikala itu gw sempet goyah. Gw tidak mau kehilangan sisi diri gw yang selalu berdiri untuk kebenaran, yang mengadvokasi suara-suara yang tidak didengar, dan tetap jadi berani.

Gw sadar penuh akan risikonya: ditolak, dikucilkan, diabaikan. Tapi justru kesadaran penuh akan risiko inilah yang harus gw latih sejak sekarang. Sabar itu harus ada di dalam, tapi bersuara itu harus tetap di luar. Dan untuk bisa terus begitu, gw harus terus belajar.

Dari rentetan penolakan ini, ada satu hal yang gw pelajari:

Gw tidak mau jadi salah satu dari orang-orang berkuasa yang gw ceritakan di awal tulisan ini, yang jabatannya tinggi, tapi hatinya tetap penakut. Kalau sistem ini memang dirancang untuk pelan-pelan membentuk orang baik jadi serba hati-hati, maka satu-satunya cara melawannya adalah dengan sengaja mendidik diri sendiri ke arah sebaliknya, sejak sekarang, selagi belum terlambat.

Jadi ini yang gw pegang: sabar itu urusan di dalam, bukan alasan untuk diam di luar. Gw boleh ditolak, boleh dikucilkan, boleh diabaikan, itu risiko yang sudah gw terima. Yang tidak boleh, adalah gw berhenti bersuara hanya karena capek ditolak.

Maka mulai sekarang gw belajar tiga hal. Belajar tidak mutungan tiap kali gagasan gw ditolak. Belajar tenang, supaya penolakan tidak berubah jadi alasan demotivasi. Dan belajar seni bernegosiasi serta beradvokasi yang sesungguhnya—bukan cuma menulis kritik di atas kertas, tapi tahu kapan harus bertahan, kapan harus mengalah taktis, dan kapan harus mencari jalan lain supaya suara itu tetap sampai.

Karena pada akhirnya, jadi berani bukan soal sekali speak up lalu selesai. Itu soal tetap berdiri di tempat yang sama, berkali-kali, meski berkali-kali pula ditolak. Dan berani yang kaya gitu, yang harus dijaga terus-menerus, tidak akan bisa tercapai kalau gw gak belajar sabar. Sabar itulah yang bikin berani tidak padam setelah penolakan pertama, kedua, atau kesekian kalinya, yang bikin kita tetap bisa bangkit dan bersuara lagi, bukan cuma sekali meledak lalu diam selamanya.