Jumat, 17 November 2017

What is wrong?

Hello again, Blogspot!

I've been longing to write on you again. Won't lie, loneliness tend to push me back to you, as I realized I start to not tell any one about what really happens on my deepest mind lately. So congrats, you are the chosen one, the safety place to tell a secret, even tho there will always a possibility for people noticing my write.

Weather it is because adulthood or just another PMSyndrome, I suffer for having melancholy thought regarding people's existence on my life, a friend, a lover, and even a pet (sorry not sorry for categorized them as "people"). Why do they come and go? Why should I let them visit my heart and left some remarks if in the end they would left and won't come back?

It is always hard to let go, but always easy for me for being too attach -emotionally-.


Sabtu, 20 Mei 2017

Effortless Trust

A friend of mine once told me,
He married a girl he knew he could love for the rest of his life
And If only God let me choose,
I would choose the one that I know I would trust for the rest of my life,
That even if he asked me to jump to the precipice and said everything will be fine,
I’ll do, with no hesitation.

Mine to you,
Is an effortless trust..
Caused by a magic spell you spread since the first day that we met,
Try that hard to resist but it won’t worked in the end,

I’ve been touched,
By those warm and soft heart,
I’ve been caught, imprisoned on a room with no open door

And now am tired of you ghosting me through the night and the day
Seems like every distraction I made for my self won’t enough to make you fade away,

And am tired of wasting my time on someone who are not right,
And you know everyone who are not you is not right

Would you mind, to come back and fix things you’ve left broken?
Would you mind?

Jumat, 14 November 2014

#20LiveLesson



Pernah dapet pelajaran berharga yang berkesan banget dari orang lain padahal itu gak lebih dari satu kalimat? Gue pernah. Dalam tulisan ini gue akan rangkum beberapa. Mereka yang ngomong bukan orang orang yang melulu ada disekitaran gue, tapi kalimat mereka selalu terngiang ketika gue sedang ada dalam kondisi atau pikiran yang destruktive.

What are they? Here we go!


  • “Kalo lo gak percaya sama diri lo sendiri, lo pikir orang lain akan?” Deta, dengan gaya ketusnya, ditengah kepesimisan gue menuju persentasi tender suatu project sebagai calon ketua.
  • “Jangan dihapus videonya! Emang mau nanti nanti ngelakuin kesalahan yang sama?” – Kak Galby (pas gue mau delete video nyanyi gagal gue di malaysia. Well, berkesan karena gue selalu pura pura lupa sama hal hal yang bikin gue sedih atau kecewa, emang sih, hidup jadi bahagia, tapi.. itu membuat gue gak belajar)
  • "Coba cam, seandainya lo tidur, kemudian mati, lo mau ada dalam posisi sedang membela islam atau membela mereka yang masuk neraka?” Bang Ali, ketika gue bilang dia terlalu keras memusuhi orang orang liberal. 
  • "Mungkin, karena lo selalu bandingin diri lo sama yang lain cam?” Tita, yang akhirnya ngasih tau gue penyebab ke-inferioran gue selama ini.
  •  “Seorang yuris yang baik bukanlah mereka yang menegakkan suatu kemapanan kebenaran, melainkan mereka yang terus mempertanyakan, apakah kebenaran tersebut adalah benar sebuah kebenaran?” Bang Antonius, Dosen FH. Cukup menampar karena gue bukan tipikal yang suka bertanya tanya atas kebenaran suatu kemapanan. 
  • Ketika lo udah kenal dan tau banget tentang diri lo, tujuan hidup lo, percaya deh cam, lo gak akan peduli sama nyinyir-an orang” – Muthi, #Jleb karena gue terlalu mengkonsider omongan orang atas pilihan yang gue tentukan. 

Sekian share #20LiveLesson nya kali ini! Till next time!

Minggu, 21 September 2014

Dilema si dua kaki


Ada yang mengganjal, 
pikirku saat sudah berjalan dua belas ribu kilo meter dari tempat itu.
sudah -nyaris- sampai ke tempat baru. 
Apa ya? 
Handphone (?)
aku raba kantong jeans ku. Ia nyaman disana.
Lampu penerangan (?)
Ah, apaaa!
Aku kesal.
Perjalanan ini seharusnya menyenangkan. 
Tak perlu ada berat hati disetiap langkah menuju tempat baru nya. 
Tak perlu ada adegan gelisah serta sesak tiba tiba.


Ah aku ingat!
Sialan!
yang tertinggal bukan barang. 
yang tersisa adalah penyesalan,
atas ratusan kalimat yang selalu gagal tersampaikan. 
marah yang meledak -hanya- didepan cermin kamar.
dan tangis yang lebih sering aku tumpahkan diam diam, 
semuanya, tertuju untuk mu.


Aku tidak tahu, apalagi yang bisa aku upayakan.
selain ku ganti namaku, 
selain ku ganti wajahku,
untuk mengurangi sedikit beban dikepalaku, 
untuk mengurangi sedikit sesak didadaku,
untuk mengurangi sedikit aku ketika ditempat itu.

Kedua kakiku sepertinya sedang berperang.
sisi kanannya mengatakan:
abaikan!
abaikan!
tempat barumu tinggal selangkah lagi.
disusul teriakan rivalnya:
kembali! dua belas ribu kilometer tidak sia sia untuk rasa ganjil yang harus kau selesaikan!


lama....
si kaki lebih memilih diam..
kami tak sampai sampai...








Sabtu, 20 September 2014

Harus kaya

Sabtu, punya ruang sendiri di hatiku.

di paginya, pasti lari pagi.
kecuali sedang sakit. atau hujan. atau malas.
meski yang ke tiga lebih sering jadi alasan.

pagi ini,
menuju lapangan bola komplek palapa,
berjalan tergesa, dan terpaksa terhenti, ternyata ada kerumunan ramai ramai,
kulihat lebih seksama,
ah,
ngilu.
Ada kakek tua penjual mie ayam yang bernasib buruk ternyata
gerobaknaya jatuh ke selokan lebar,
hancur bersamaan dengan saos, kecap, sayur, dan harapan harapannya.

Sial. Aku tak bawa apapun kecuali baju yang menempel di badan.
Tak ada rupiah satu helai pun.
Pagi ini aku gagal jadi manusia berguna.

di malamnya, pasti makan malam diluar,
kecuali sedang tidak ada Abah, yang pulang ke jakarta satu bulan sekali,
jadi ya hitung saja.

selesai makan, ke parkiran,
datang seseorang dari kejauhan, tergopoh gopoh sambil membawa barang dagangannya,
wajahnya 50% cemas, 40% sedih, 5% berharap, 5% khawatir
dari luar mobil ia berusaha bicara,
oh, ternyata,
ia katakan "Bu, semprongnya mau bu?"

bisa kau bayangkan?
terengah engah,
bukan dengan wajah sumringah,
tapi dengan wajah komposisi seperti itu.
sialnya,
dalam kondisi jalanan penuh jakarta yang -sedikit ngerem saja sudah banjir klakson-,
kami tak pegang uang lebih dari 25 saja.
maka dengan sedih hati hanya itu saja yang bisa kami berikan.
sejumlah uang yang membuat aku terisak selama perjalanan.

lagi lagi aku gagal jadi manusia berguna, dua kali hari ini.
alasannya sama : karena tak punya uang -disaat dimana ada orang lain yang membutuhkan-

mungkin analoginya tidak terlalu sama,
namun kisah hari ini punya hikmahnya.
Ketika kita tidak dalam keadaan kaya, maka sulit bagi kita untuk bisa bermanfaat untuk meringankan beban saudara saudara kita.
Hari ini seolah sukses menancapkan dendam.
Di masa depan, ku harus kaya.




Jumat, 29 Agustus 2014

Mikirin nikah (dikit)

dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)

Well... Apa perasaan kalian ketika ayat itu dibacakan?
Kalo gue, dari hati terdalam : Ngeri....
dan insecure.

Kenapa insecure:
Gue sering beberapa kali nyomblangin orang -dalam artian mau nikah- *naudzubillah mindzalik kalo cuma buat pacaran, takut kecipratan dosa*.
Dari nyomblangin itu, gue nemuin fakta yang kadang subhanallah, kadang astagfirullah. (Kalimat selanjutnya insyaAllah bukan gibah karna gaada yang tau siapa YBS).
Yang astagfirullah adalah ketika gue nyomblangin si A dan si B. Si A (cowo) suka parah sama si B dengan reason si B ini ukhti yang subhanallah. Tapi si A ini menurut gue termasuk cowok player karena sering main hati sama perempuan lain. Disisi lain, gue tau fakta tersembunyi juga kalo si B, sebenernya gak se-subhanallah itu. Dia juga, menurut gue, ukhti lumayan player.

Cerita lain : sobat gue si C (perempuan) kemarin dalam proses taaruf sama si D (laki laki). Si D udah sok-sok an serius banget sama si C. di chat mah alimnya luar biasa. Belakangan pas kepo FB twitter nya lebih dalam ternyata bikin istighfar liat tema perbincangannya. Not that good. Bersyukur banget Allah ngebukain mata si C untuk liat fakta "nyelip" itu. Si C deserve better karna dia truly solehah (menurut gue), odoj-er, tahajud jalan, gapernah pacaran, baik hati, meski dia gak pake baju ala ukhti. Singkat cerita mereka 'kelar'.

Dari cerita di atas, gue beneran dapet "pengalaman pribadi", not just a quotes, dimana orang yang kadar baiknya hingga level segitu, hanya akan dapat orang yang levelnya segitu juga, no metter betapa bagus topeng seseorang. Pun ketika mereka ternyata tidak satu level, ceritanya akan kayak case ke-2; kelar. Alam seolah akan berkonspirasi untuk mempertemukan orang dengan kadar baik setinggi itu untuk yang kadar baiknya setinggi itu juga.
Oleh sebab itu, ketika nikah kelak, gue akan pasang tameng "curiga" untuk calon yang maju ke Umi Abah gue, curiga seperti gue mencurigai diri sendiri, "hai cam, udah bener belom? si X itu kadarnya kayak lo, loh!"

Ya ya, tapi dari segala ke-insecure-an gue, intinya gue ogah nikah sebelum bener. I tolerance my self to be better girl for 2 years from now. Meski disisi lain gue selalu berdoa : Ya Allah yang maha murah hati, kalo sampe umur 22 diri ini belum bener juga, tolong tetep kasih orang soleh ya Ya Allah... Hamba mu ini masih sangat labil sehingga butuh penuntun untuk semakin mendekat padaMu. Ya Allah, kelilingi lah aku selalu dengan orang orang soleh sepanjang hidupku.  
Amin.

Sudah pukul 2 malam. Harap maklum postingannya bertema seperti ini ya.