Kamis, 08 Maret 2012

Ucapkan Kata-katamu (Wiji Thukul)

jika kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan

jika kau tahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan apa maumu
terampas

kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang dipungut
atau dicabut seperti rumput

atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian

jika kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kau penjarakan ucapanmu

jika kau menghamba kepada ketakutan
kita memperpanjang barisan perbudakan

kemasan-kentingan-sorogenen

Jumat, 24 Februari 2012

Sajak Tjokro

Lelap terus,
dan kau pun dipuji sebagai bangsa terlembut di dunia
Darahmu dihisab dan daging mu dilahap sehingga hanya kulit tersisa.
Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau?
Orang dapat menyuruhnya kerja,
dan memakan dagingnya
Tapi kalau mereka tau hak haknya, orang pun akan menamakannya pongah,
karena tidak mau ditindas.
Bahasa mu terpuji halus di seluruh dunia, dan sopan pula
Sebabnya kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo dan orang lain
menegurmu dalam bahasa ngoko
Kalau kau balikkan, kau pun dianggap kurangajar


*ditulis oleh Tjokroaminoto dalam Doenia Bergerak

Sabtu, 18 Februari 2012

Tentang Sebuah Ketulusan

Mungkin teman teman akan mengira essay ini membahas tentang ibu atau guru, atau mm tentang seorang petugas kebersihan pemprov DKI. Kali ini tebakan anda salah, yang ingin saya bahas adalah pengalaman saya berinteraksi dengan makhluk tuhan lain yaitu hewan. Kenapa hewan?

Seperti yang biasa saya lakukan, saya merenungi banyak kejadian kejadian sederhana (alias tidak penting) yang saya alami. Saya sering sekali berinteraksi

dengan hewan hewan yang tidak lucu, seperti sapi, kambing , dan pernah satu kali , onta. Yang saya renungi disini adalah , mengapa kebanyakan hewan hewan tersebut menjadi jinak hanya kepada saya? Mengapa ? Hmm ini bukan geer atau apa pun, tapi kenyataannya, hewan hewan tersebut seringkali mengamuk dengan teman saya, misalnya sewaktu dikandang unta kemarin, unta tersebut menyeruduk teman satu rombongan saya, sedangkan dengan saya, unta tersebut malah merundukkan kepalanya seolah ingin terus dimanja. Begitu pula dengan kambing ayah saya, geboy, yang juga manja terhadap saya namun menanduk ibu saya yang memang tidak menyukai kambing sejak dulu.

Kita kaitkan dengan judul diatas. Mungkin hal tersebut terjadi karena saya memang tulus mencintai si hewan hewan tersebut. Hewan , dengan naluri pemberian Tuhan, tau bahwa saya memang menyayangi mereka tanpa kepalsuan. Kemudian saya coba lagi kaitkan dengan hubungan antar manusia. Mengapa bisa ada orang yang dikala kita dekat dengan nya, kita merasa senang sehingga banyaklah yang ingin berteman dengannya? Ya, saya rasa saya telah menemukan jawabannya. Karena ketulusan hati orang tersebut dapat terbaca oleh naluri teman teman yang lainnya.

Senin, 30 Januari 2012

Happy bdaaay ummi!

Sejak facebook bisa timeline, gue jadi ngekepo diri sendiri. naaah , tiba tiba gue ngeliat kembali video ini. jadi seneng :")

Kamis, 05 Januari 2012

Hujan itu romantis

Kala hujan
aku rasakan berkah tuhan
yang ia berikan cuma cuma
kepada rerumputan yang menari riang

Kala hujan
aku rasakan kehangatan
karena sup buatan mama
yang ia racik dengan kasihnya


Kala hujan
aku rasakan cinta
karena hanya pada saat itulah
kau dan aku seirama

Yang salah siapa?

Pikiran ini muncul ketika aku berjalan menuju pulang dimalam hari. Kala itu, jam 9 malam, gelap, sunyi, hanya ditemani oleh derap langkah ku yang memburu. Entah kenapa, ada perasaan yang mengancamku setiap aku pulang malam. Kemudian aku berfikir, mengapa seorang wanita tidak boleh pulang malam? Salah malam kah? atau salah wanita kah mengapa ia terlahir sebagai wanita yang secara kodrat tidak boleh pulang malam?

Tapi pikiran itu segera terbantahkan tepat ketika langkah kaki ku bertemu sang kekasih yang selalu dirindukannya, halaman rumah. Ini bukan salah wanita, atau salah malam, tapi ini salah norma. Norma lah yang membuat malam menjadi asing bagi wanita, norma lah yang telah membuat pria pria nakal itu menjadi ganas, dan norma lah yang sebenarnya melindungi wanita dari si pria pria ganas itu.

Yasudah, sekian perenungan dimalam hari kali ini. Jangan salahkan saya jika pada akhirnya saya tidak tahu yang salah siapa.